Macam-macam Hadits dan pembahasan

Macam-macam Hadits – Umat Islam mengalami kemajuan pada zaman klasik (650-1250). Dalam sejarah, puncak kemajuan ini terjadi pada sekitar tahun 650-1000 M.

Pada masa ini telah hidup ulama besar, yang tidak sedikit jumlahnya, baik di bidang tafsir, hadits, fiqih, ilmu kalam, filsafat, tasawuf, sejarah maupun bidang pengetahuan lainnya.

Berdasarkan bukti historis ini menggambarkan bahwa periwayatan dan perkembangan pengetahuan hadist berjalan ber iringan dengan perkembangan pengetahuan lainnya.

Menatap prespektif keilmuan hadist, sungguh pun ajaran hadist telah ikut mendorong kemajuan umat Islam. Sebab hadist Nabi, sebagaimana halnya Al-Qur’an telah memerintahkan orang-orang beriman menuntut pengetahuan.

Dengan demikian prespektif keilmuan hadits, justru menyebabkan kemajuan umat Islam. Bahkan suatu kenyataan yang tidak boleh luput dari perhatian, adalah sebab-sebab dimana al-Qur’an diturunkan.

Dalam dunia pengetahuan tentang agama Islam, sebenarnya benih metode sosio-historis telah ada pengikutsertaan pengetahuan asbab al nuzul (sebab-sebab wahyu diturunakan) untuk memahami al-Qur’an, dan asbab al-wurud (sebab-sebab hadits diucapkan) untuk memahami al-Sunnah.

Meskipun asbab al-Nuzul dan asbab al –Wurud terbatas pada peristiwa dan pertanyaan yang mendahului nuzul (turun) Al-Qur’an dan wurud (disampaikannya) hadits, tetapi kenyataannya justru tercipta suasana keilmuan pada hadits Nabi SAW.

Tak heran jika pada saat ini muncul berbagai ilmu hadits serta cabang-cabangnya untuk memahami hadits Nabi, sehingga As-Sunnah sebagai sumber hukum Islam yang kedua dapat dipahami serta diamalkan oleh umat Islam sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Rasulullah.

Pengertian Hadits

Hadits adalah segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan maupun hukum dalam agama Islam.

Hadits dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur’an, Ijma dan Qiyas, dimana dalam hal ini, kedudukan hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an.

Ada banyak ulama periwayat hadits, namun yang sering dijadikan referensi hadits-haditsnya ada tujuh ulama, yakni Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmudzi, Imam Ahmad, Imam Nasa’i, dan Imam Ibnu Majah.

Pembagian Hadits secara umum

Hadits yang dapat dijadikan pegangan adalah hadits yang dapat diyakini kebenarannya. Untuk mendapatkan hadits tersebut tidaklah mudah karena hadits yang ada sangatlah banyak dan sumbernya pun berasal dari berbagai kalangan. Berikut pembagian macam-macam hadits yang di tinjau dari segi

Dari segi jumlah Periwayatnya

Hadits ditinjau dari segi jumlah rawi atau banyak sedikitnya perawi yang menjadi sumber berita, maka dalam hal ini pada garis besarnya hadits dibagi menjadi dua macam, yakni hadits mutawatir dan hadits ahad.

Hadits Mutawatir

Pengertian

Kata mutawatir secara bahasa ialah mutatabi yang berarti beriring-iringan atau berturut-turut antara satu dengan yang lain.

Sedangkan secara istilah ialah :

Macam macam hadits

Suatu hasil hadits tanggapan panca indera, yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi, yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk dusta.

Maksudnya adalah Hadits mutawatir ialah suatu (hadits) yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.

Tidak dapat dikategorikan dalam hadits mutawatir, yaitu segala berita yang diriwayatkan dengan tidak bersandar pada pancaindera, seperti meriwayatkan tentang sifat-sifat manusia, baik yang terpuji maupun yang tercela, juga segala berita yang diriwayatkan oleh orang banyak, tetapi mereka berkumpul untuk bersepakat mengadakan berita-berita secara dusta.

Hadits yang dapat dijadikan pegangan dasar hukum suatu perbuatan haruslah diyakini kebenarannya. Karena kita tidak mendengar hadist itu langsung dari Nabi Muhammad SAW, maka jalan penyampaian hadits itu atau orang-orang yang menyampaikan hadits itu harus dapat memberikan keyakinan tentang kebenaran hadits tersebut.

Dalam sejarah para perawi diketahui bagaimana cara perawi menerima dan menyampaikan hadits. Ada yang melihat atau mendengar, ada pula yang dengan tidak melalui perantaraan pancaindera, misalnya dengan lafaz diberitakan dan sebagainya.

Disamping itu, dapat diketahui pula banyak atau sedikitnya orang yang meriwayatkan hadits itu. Apabila jumlah yang meriwayatkan demikian banyak yang secara mudah dapat diketahui bahwa sekian banyak perawi itu tidak mungkin bersepakat untuk berdusta, maka penyampaian itu adalah secara mutawatir.

Syarat-syarat Hadits mutawatir

Suatu hadits dapat dikatakan mutawatir apabila telah memenuhi persyaratan sebagai berikut :

Hadits (khabar) yang diberitakan oleh rawi-rawi tersebut harus berdasarkan tanggapan (daya tangkap) pancaindera.

Artinya bahwa berita yang disampaikan itu benar-benar merupakan hasil pemikiran semata atau rangkuman dari peristiwa-peristiwa yang lain dan yang semacamnya, dalam arti tidak merupakan hasil tanggapan pancaindera (tidak didengar atau dilihat) sendiri oleh pemberitanya, maka tidak dapat disebut hadits mutawatir walaupun rawi yang memberikan itu mencapai jumlah yang banyak. 

Bilangan para perawi mencapai suatu jumlah yang menurut adat mustahil mereka untuk berdusta. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang batasan jumlah untuk tidak memungkinkan bersepakat dusta.

  • Abu Thayib menentukan sekurang-kurangnya 4 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah saksi yang diperlukan oleh hakim.
  • Ashabus Syafi’i menentukan minimal 5 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah para Nabi yang mendapatkan gelar Ulul Azmi.
  • Sebagian ulama menetapkan sekurang-kurangnya 20 orang. Hal tersebut berdasarkan ketentuan yang telah difirmankan Allah tentang orang-orang mukmin yang tahan uji, yang dapat mengalahkan orang-orang kafir sejumlah 200 orang (lihat surat Al-Anfal ayat 65).
  • Ulama yang lain menetapkan jumlah tersebut sekurang-kurangnya 40 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan firman Allah:

“Wahai nabi cukuplah Allah dan orang-orang yang mengikutimu (menjadi penolongmu).” (QS. Al-Anfal: 64).

Seimbang jumlah para perawi, sejak dalam thabaqat (lapisan/tingkatan) pertama maupun thabaqat berikutnya. Hadits mutawatir yang memenuhi syarat-syarat seperti ini tidak banyak jumlahnya, bahkan Ibnu Hibban dan Al-Hazimi menyatakan bahwa hadits mutawatir tidak mungkin terdapat karena persyaratan yang demikian ketatnya.

Sedangkan Ibnu Salah berpendapat bahwa mutawatir itu memang ada, tetapi jumlahnya hanya sedikit. Ibnu Hajar Al-Asqalani berpendapat bahwa pendapat tersebut di atas tidak benar.

Ibnu Hajar mengemukakan bahwa mereka kurang menelaah jalan-jalan hadits, kelakuan dan sifat-sifat perawi yang dapat memustahilkan hadits mutawatir itu banyak jumlahnya sebagaimana dikemukakan dalam kitab-kitab yang masyhur bahkan ada beberapa kitab yang khusus menghimpun hadits-hadits mutawatir, seperti Al-Azharu al-Mutanatsirah fi al-Akhabri al-Mutawatirah, susunan Imam As-Suyuti(911 H), Nadmu al-Mutasir Mina al-Haditsi al-Mutawatir, susunan Muhammad Abdullah bin Jafar Al-Khattani (1345 H).

Hadist Ahad

Pengertian

Secara bahasa, hadits Ahad adalah hadits yang diriwayatkan satu orang perawi hadits saja.
Sedangkan secara istilah adalah hadits yang tidak mencapai tingkatan mutawatir.

Hadits Ahad sendiri memiliki definisi yang luas dan mencakup beberapa kategori antara lain :

  • Hadits Masyhur Hadits yang diriwayatkan oleh 3 rawi
    dalam tiap thabaqat (generasi perawi), atau lebih dari tiga selama tidak mencapai derajat bilangan perawi mutawatir.
  • Hadits Aziz hadits yaitu diriwayatkan oleh dua orang perawi dalam tiap thabaqat.
  • Hadits Gharib hadits yaitu diriwayatkan oleh satu orang perawi.

Faedah

Para ulama sependapat bahwa hadist ahad tidak Qat’i, sebagaimana hadist mutawatir. Hadist ahad hanya memfaedahkan zan, oleh karena itu masih perlu diadakan penyelidikan sehingga dapat diketahui maqbul dan mardudnya.

Dan kalau ternyata telah diketahui bahwa hadist tersebut tidak tertolak, dalam arti maqbul, maka mereka sepakat bahwa hadist tersebut wajib untuk diamalkan sebagaimana hadist mutawatir.

Bahwa neraca yang harus kita pergunakan dalam berhujjah dengan suatu hadist, ialah memeriksa “Apakah hadist tersebut maqbul atau mardud”. Kalau maqbul, boleh kita berhujjah dengannya. Kalau mardud, kita tidak dapat iktiqatkan dan tidak dapat pula kita mengamalkannya.

Kemudian apabila telah nyata bahwa hadist itu (sahih, atau hasan), hendaklah kita periksa apakah ada muaridnya yang berlawanan dengan maknanya. Jika terlepas dari perlawanan maka hadist itu kita sebut muhkam.

Jika ada, kita kumpulkan antara keduanya, atau kita takwilkan salah satunya supaya tidak bertentangan lagi maknanya. Kalau tak mungkin dikumpulkan tapi diketahui mana yang terkemudian, maka yang terdahulu kita tinggalkan, kita pandang mansukh, yang terkemudian kita ambil kita pandang nasikh.

Jika kita tidak mengetahui sejarahnya, kita usahakan menarjihkan salah satunya. Kita ambil yang rajih, kita tinggalkan yang marjuh. Jika tak dapat ditarjihkan salah satunya, bertawaqquflah kita dahulu.

Walhasil, barulah dapat kita dapat berhujjah dengan suatu hadist sesudah nyata sahih atau hasannya, baik ia muhkam atau mukhtakif adalah jika dia tidak marjuh dan tidak mansukh. 

Dari segi kualitas Sanad dan Matan Hadits

Penentuan tinggi rendahnya tingkatan suatu hadist bergantung kepada tiga hal, yaitu jumlah rawi, keadaan (kualitas) rawi, dan keadaan matan. Ketiga hal tersebut menetukan tinggi-rendahnya suatu hadist.

Bila dua buah hadist menentukan keadaan rawi dan keadaan matan yang sama, maka hadist yang diriwayatkan oleh dua orang rawi lebih tinggi tingkatannya dari hadist yang diriwayatkan oleh satu orang rawi. Dan hadist yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi lebih tinggi tingkatannya daripada hadist yang diriwayatkan oleh dua orang rawi.

Jika dua buah hadist memiliki keadaan matan jumlah rawi (sanad) yang sama, maka hadis tyang diriwayatkan oleh rawi yang kuat ingatannya, lebih tinggi tingkatannya daripada hadist yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah tingkatannya, dan hadist yang diriwayatkan oleh rawi yang jujur lebih tinggi tingkatannya daripada hadist yang diriwayatkan oleh rawi pendusta.


Artinya :
“Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon tobat kepada kami) pada waktu yang telah kami tentukan.”

Pendapat lain membatasi jumlah mereka empat puluh orang, bahkan ada yang membatasi cukup dengan empat orang pertimbangan bahwa saksi zina itu ada empat orang.

(dari sejumlah rawi yang semisal dan seterusnya sampai akhir sanad) mengecualikan hadist ahad yang pada sebagian tingkatannya terkadang diriwayatkan oleh sejumlah rawi mutawatir.

Contoh hadist :


Artinya :
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya.” 

Awal hadist tersebut adalah ahad, namun pada pertengahan sanadnya menjadi mutawatir. Maka hadist yang demikian bukan termsuk hadist mutawatir.


(dan sandaran mereka adalah pancaindera)

Seperti sikap dan perkataan beliau yang dapat dilihat atau didengar sabdanya. Misalnya para sahabat menyatakan; “kami melihat Nabi SAW berbuat begini”.

Dengan demikian mengecualikan masalah-masalah keyakinan yang disandarkan pada akal, seperti pernyataan tentang keesaan firman Allah dan mengecualikan pernyataan-pernyataan rasional murni, seperti pernyataan bahwa satu itu separuhnya dua. Hal ini dikarenakan bahwa yang menjadi pertimbangan adalah akal bukan berita.

Bila dua hadist memiliki rawi yang sama keadaan dan jumlahnya, maka hadist yang matannya seiring atau tidak bertentangan dengan ayat-ayat Al-Quran, lebih tinggi tingkatannya dari hadist yang matannya buruk atau bertentangan dengan ayat-ayat Al-quran.

Tingkatan (martabat) hadist ialah taraf kepastian atau taraf dugaan tentang benar atau palsu nya hadist berasal dari Rasulullah. Hadist yang tinggi tingkatannya berarti hadist yang tinggi taraf kepastiannya atau tinggi taraf dugaan tentang benarnya hadist itu berasal Rasulullah SAW.

Hadist yang rendah tingkatannya berarti hadist yang rehdah taraf kepastiannya atau taraf dugaan tentang benarnya ia berasal dari Rasulullah SAW.

Tinggi rendahnya tingkatan suatu hadist menentukan tinggi rendahnya kedudukan hadist sebagai sumber hukum atau sumber Islam.

Para ulama membagi hadist ahad dalam tiga tingkatan, yaitu hadist sahih, hadist hasan, dan hadist daif. Pada umumnya para ulama tidak mengemukakan, jumlah rawi, keadaan rawi, dan keadaan matan dalam menentukan pembagian hadist-hadist tersebut menjadi hadist sahih, hasan, dan daif.

Macam-macam Hadits Ahad

penjelasan mengenai macam-macam hadits ahad

  • Hadits Shahih

Hadist sahih menurut bahasa berarti hadist yang bersih dari cacat, hadist yang benar berasal dari Rasulullah SAW. Batasan hadist sahih, yang diberikan oleh ulama, antara lain :

macam-macam hadits

Artinya :
“Hadist sahih adalah hadist yang susunan lafadz nya tidak cacat dan maknanya tidak menyalahi ayat (al-Quran), hadits mutawatir, atau ijmak serta para rawinya adil dan dabit.”
  • Hadist Hasan

Secara bahasa, hasan berarti bagus atau baik. Menurut Imam Turmuzi hadits hasan adalah


Artinya :“yang kami sebut hadist hasan dalam kitab kami adalah hadist yang sanadnya baik menurut kami, yaitu setiap hadist yang diriwayatkan melalui sanad di dalamnya tidak terdapat rawi yang dicurigai berdusta, matan hadistnya, tidak janggal diriwayatkan melalui sanad yang lain pula yang sederajat. Hadist yang demikian kami sebut hadist hasan.”
  • Hadist Daif

Hadist daif menurut bahasa berarti hadist yang lemah, yakni para ulama memiliki dugaan yang lemah (kecil atau rendah) tentang benarnya hadist itu berasal dari Rasulullah SAW.

Para ulama memberi batasan bagi hadist daif :


Artinya :
“Hadist daif adalah hadist yang tidak menghimpun sifat-sifat hadist sahih, dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadist hasan.”

Jadi hadist daif itu bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadist sahih, melainkan juga tidak memenuhi syarat-syarat hadist hasan. Pada hadist daif itu terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadist tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW.

Kesimpulan.

Hadits Sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa ucapan (qauly), perbuatan (fi’ly), ketetapan (taqriry), atau dengan sifat.

  • Hadits qauly: Adalah hadits yang berisi tentang ucapan Nabi Saw 
  • Hadits fi’ly: Hadist yang berupa perbuatan Nabi Saw yang dideskripsikan oleh Sahabat. 
  • Hadits taqriry: Adalah hadits yang berisi tentang persetujuan atau ketetapan Nabi Saw terhadap ucapan atau perbutan yang dilakukan oleh Sahabat, termasuk diamnya Nabi Saw ketika melihat satu perbuatan sahabat di hadapan beliau. 

Sanad 

Sanad atau isnad (jamak’plural) secara bahasa artinya sandaran, maksudnya : Mata rantai atau jalan yang bersambung sampai kepada matan (isi hadist) yang terdiri dari para rawi-rawi yang meriwayatkan matan hadits dan menyampaikannya.

Sanad dimulai dari rawi yang awal (sebelum pencatat hadits) dan berakhir pada orang sebelum Rasulullah Saw yakni Sahabat. Misalnya Bukhari meriwayatkan satu hadits, maka Bukhari dikatakan mukharrij atau mudawwin (yang mengeluarkan hadits atau yang mencatat hadits), rawi yang sebelum Bukhari disebut sanad pertama sedangkan Sahabat yang meriwayatkan hadits itu dikatakan sanad terakhir.

Contoh lain: Bukhari meriwayatkan dari A terus B, C, D, E. Dan E dari Nabi Saw.Si A ini disebut dengan sanad pertama, sedangkan E sanad terakhir. Sedangkan A disebut rawi, B rawi dan seterusnya. Sedangkan mata rantai yang menghubungkan antara A, B, C, D,dan E disebut dengan Sanad.

Matan Hadist 

Adalah isi, ucapan atau lafazh-lafazh hadits yang diriwayatkan atau yang disampaikan oleh sanad terakhir.
Kedudukan Hadist Terhadap Al-Qur’an Bayan tafsir: 
Menjelaskan apa yang terkandung dalam Al Qur’an dan penjelasan ini berupa:

  1. Menjelaskan Ayat Mujmal (umum): misalnya, Al Qur’an mewajibkan wudhu bagi orang yang akan sholat. Hadits menjelaskan rincian wudhu, bilangan membasuh dan batas-batas membasuh.
  2. Membatasi Yang Mutlaq: Misalnya Al Qur’an menetapkan hukum potong tangan bagi pencuri. Hadits menjelaskan tentang batasan nilai barang yang dicuri yang menyebabkan terjadinya hukum potong tangan.
  3. Mentakhshish atau mempertegas kalimat ‘am (kalimat umum) Misalnya Al Qur’an menjelaskan tentang waris dan orang-orang yang berhak mendapat warisan. Hadits memberi pengecualian bagi orang yang membunuh tidak berhak mendapat waris.

Sumber :
alhadiibrahim.com

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: