Perang Aceh : Sejarah dan latar belakang perang aceh

Perang Aceh : Sejarah dan latar belakang perang aceh

Sebelum Indonesia merdeka, banyak sekali peperangan melawan penjajah, Salah satunya yaitu Perang Yang ada di Aceh atau bisa disebut dengan Perang Aceh.

Perang Aceh adalah perang antara Kesultanan Aceh melawan penjajah Belanda. Perang aceh ini dimulai pada tahun 1872 sampai dengan 1904.
Belanda mulai melepaskan tembakan meriam dari kapal perangnya ke tanah Aceh setelah menyatakan perang kepada Aceh pada 26 Maret 1873.

Pada tahun 1904 Kesultanan Aceh menyudahi perlawanannya terhadap penjajah belanda. Namun pada saat Kesultanan Aceh telah menyerah, masyarakat Aceh masih tetap melanjutkan perlawanannya dengan cara gerilya.

Penyebab terjadinya Perang Aceh

Penyebab terjadinya Perang Aceh

Perlawanan Aceh melawan penjajah belanda terjadi selama kurang lebih 30 tahun lamanya. Adanya perang Aceh sendiri meliputi beberapa sebab yaitu sebab-sebab umum dan sebab-sebab khusus.

Sebab-sebab umumnya antara lain Adalah :

  • Keinginan Belanda untuk Menguasai Aceh.
  • Adanya Traktat Sumatera (Inggris dan Belanda).
  • Memberi peluang Belanda untuk menyerang Aceh dengan Turki, Italia, dan Amerika Serikat.

Sebab Khususnya ialah :

  • Belanda menuntut agar Aceh tunduk kepada belanda

Menanggapi tuntutan belanda tersebut, Sultan Aceh menolak untuk tunduk terhadap pemerintahan Belanda. Akibat dari penolakan tersebut akhirnya Belanda menyatakan perang terhadap Rakyat Aceh pada tanggal 26 Maret tahun 1873.

Proses Terjadinya Perang Aceh

Proses Terjadinya Perang Aceh

Pada awalnya Belanda sudah terikat perjanjian damai dengan aceh. Namun, pada saat Belanda menyadari bahwa Aceh memiliki peranan penting dalam perdagangan, akhirnya Belanda pun melanggar perjanjian tersebut dan malah menyerang aceh agar bisa menduduki tanah aceh.

Setelah pernyataan perangnya terhadap rakyat Aceh, Belanda pun mendatangkan kapal-kapal perangnya beserta pasukannya yang berkekuatan 3.000 orang. Mayor Jendral Kohler adalah pemimpin dari pasukan belanda tersebut.

Bersama pasukannya, Mayor Jendral Kohler memulai serangan pertamanya pada Masjid Baiturrahman yang terletak di Ibu Kota Aceh. Namun pasukan Aceh sudah bersiap dengan serangan belanda tersebut dan melawannya tanpa mengenal lelah.

Peperangan antara Aceh dan Belanda berlangsung selama kurang lebih dua minggu hingga akhirnya belanda dapat menduduki istana. Akan tetapi sebelum Belanda datang ke istana, Sultan Aceh beserta keluarganya berhasil melarikan diri ke daerah Lueng Bata di Aceh.

Setelah berhasil menduduki istana, Belanda mengira bahwa peperangan telah usai. Namun ternyata para ulama dan bangsawan Aceh telah siap untuk merebut kembali tanah Aceh. Masyarakat Aceh bertempur melawan Belanda bersama Tengku Cik Ditiro sebagai pemimpinnya.

Teuku Umar dan Cut Nyak Dien juga turut serta berjuang melawan belanda. Setelah perjuangan suami Cut Nyak Dien melawan Belanda yang Akhirnya gugur di medan perang, Cut Nyak Dien pun dendam lalu memimpin masyarakat Aceh bersama Teuku Umar untuk melawan belanda melawan Belanda bersama-sama.

Pada tahun 1882 Teuku Umar bersama masyarakat Aceh menyerang pos-pos Belanda dan berhasil menguasai Meulaboh. Setelah berhasil Menguasai Meulaboh, tanggal 14 juni 1886, Teuku Umar menyerang kapal Hok Canton yang berlabuh di Rigarh. Belanda makin kewalahan menghadapi perjuangan rakyat aceh.

Saking kewalahannya Belanda melawan rakyat aceh, Belanda mencoba berbagai cara. Salah satu cara yang di coba Belanda yaitu adalah dengan konsentrasi stelsel.

Belanda juga menerapkan sistem adu domba. Kedua siasat tersebut mengalami kegagalan. Akhirnya belanda mengirimkan Dr. Snouck Hurgronje untuk menyelidiki kehidupan dan struktur masyarakat aceh. Tokoh ini berhasil menyamar dengan menggunakan nama Abdul Gofar dan berhasil menyelidiki kelemahan masyarakat aceh.

Setelah berhasil mengetahui kelemahan rakyat Aceh, belanda melalui Dr. Snouck Hurgronje memerintahkan untuk menggunakan kekerasan dan dan pengelompokan lapisan masyarakat dalam menyerang rakyat aceh. Namun Jendral Deyckerhoff tidak mengindahkan usulan ini.

Jendral Deyckerhoff lebih memilih untuk menggunakan strategi politik divide et impera untuk mempengaruhi Teuku Umar. Akan tetapi, belanda sendiri lah yang malah tertipu dengan strategi tersebut.

Teuku Umar memanfaatkan keadaan tersebut untuk menipu belanda dan mengambil senjata belanda. setelah mendapatkan senjata dari belanda, Teuku Umar menggunakannya kembali untuk menyerang balik penjajah belanda.

Seperti itulah Teuku Umar mendapatkan kembali Meulaboh.

Tokoh-Tokoh Pahlawan pada Perang Aceh

Tokoh-Tokoh pada Perang Aceh

Bagi pelajar yang sedang mempelajari pelajaran sejarah, mungkin tidak asing ketika mendengar Perang Aceh. Ya, Aceh memang merupakan bagian negara Indonesia yang masyarakatnya memiliki keberanian untuk melindungi wilayahnya dari para penjajah.

Salah satu contoh keberaniannya yaitu dengan adanya Perang Aceh. Perang ini terjadi karena aceh menolak untuk menyerahkan wilayahnya kepada penjajah dan akhirnya terjadilah perlawanan rakyat aceh kepada penjajah.

Beberapa tokoh dalam masyarakat aceh yang mengikuti perang tersebut yaitu :

Teuku Umar

Teuku Umar adalah pahlawan Aceh yang mencetuskan perlawanan terhadap perluasan wilayah kolonial Belanda ke tanah Aceh. Pada saat peperangan berlangsung beliau berada dibawah kepemimpinan panglima Teuku Cik Ditiro.

Suami Cut Nyak Dien ini lahir di Meulaboh pada tahun 1854, dan meninggal tanggal 11 Februari 1899 karena tertembak pada pertempuran yang terjadi dini hari.

Teuku Cik Ditiro

Teuku Cik Ditiro adalah pahlawan Aceh yang sangat tangguh. Bukti ketangguhannya terlihat ketika angkatan perang Sabilya yang dipimpinnya telah berhasil merebut beberapa wilayah dari tangan musuh.

Pahlawan yang lahir pada tahun 1836 ini memiliki nama kecil Muhammad Saman. Pada tahun 1891 pahlawan yang kerap dipanggil dengan nama Teuku Cik Ditiro ini meninggal karena memakan makanan yang yang telah diberi racun oleh seorang wanita.

Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien adalah salah satu sosok pahlawan wanita yang memberikan inspirasi bagi kaum wanita hingga sekarang ini. Meski seorang wanita, beliau juga ikut berjuang untuk membela tanah airnya dari penjajahan Belanda.

Wanita yang lahir di Aceh tahun 1848 ini meneruskan perjuangan suaminya Teuku Ibrahim Lam Nga yang meninggal dalam pertempuran. Setelah suaminya meninggal Cut Nyak Dien menikah dengan Teuku Umar dan melawan belanda bersama-sama.

Setelah berhasil merebut salah satu wilayah dari tangan belanda, Teuku Umar pun juga meninggal dalam pertempuran saat perang pada dini hari.

Lalu setelah Teuku Umar meninggal, Cut Nyak Dien melanjutkan pertempuran melawan Belanda bersama dengan pasukan yang tersisa. Namun pada akhirnya Cut Nyak Dien tertangkap oleh Belanda lalu diasingkan ke tanah Sumedang dan di tahan di situ hingga akhir hayatnya.

Cut Nyak Meutia

Lahir di Keureutoe, Pirak, Aceh utara tahun 1870, Cut Nyak Meutia juga merupakan salah satu tokoh pahlawan pada perang aceh. Sama seperti Cut Nyak Dien, beliau juga sangat aktif dalam gerakan perlawanan terhadap kolonial Belanda. Cut Meutia wafat pada tanggal 24 Oktober 1910 di Aceh.

Teuku Nyak Arief

Lahir pada tanggal 17 Juli 1899 di Banda Aceh, Teuku Nyak Arief merupakan orator ulung yang sering melakukan gerakan bawah tanah dalam melawan Belanda sejak usia muda. Teuku Nyak Arief juga rela mengorbankan harta bendanya demi membiayai kebutuhan perang.

Semangat juangnya yang tinggi membuatnya banyak melakukan gerakan di bidang politik dan pendidikan. Ia juga membantu anak tidak mampu yang cerdas untuk mengenyam pendidikan.

Sebelum wafat, ia sempat diangkat sebagai residen Aceh (sekarang setara dengan Gubernur) oleh pemerintah Pada 3 Oktober 1945. Teuku Nyak Arief ini wafat pada tanggal 4 Mei 1946.

Teuku Muhammad Hasan

Teuku Muhammad Hasan juga termasuk salah satu Tokoh Aceh lainnya yang juga memberikan kontribusi saat perang Aceh terjadi.

Lahir di Pidie, Aceh pada 4 April 1906, Teuku Muhammad Hasan juga merupakan pejuang kemerdekaan indonesia dan gubernur Sumatera utara pertama setelah Indonesia memperoleh kemerdekaannya.

Setelah menempuh pendidikan di Belanda, Teuku Muhammad Hasan pulang ke tanah air lalu beliau aktif bergerak di berbagai bidang terutama bidang pendidikan. Teuku Muhammad Hasan ini wafat di Jakarta pada tanggal 21 September 1997.

Sultan Iskandar Muda

Walaupun tidak ada hubungan dengan konflik atau perang Aceh yang pecah setelah Traktat Sumatera ditandatangani, Sultan Iskandar Muda juga termasuk tokoh Aceh yang mempunyai cukup banyak jasa untuk tanah kelahirannya tersebut.

Sultan Iskandar Muda Lahir tahun 1593 di Banda Aceh, beliau merupakan sultan yang paling besar dalam masa kesultanan Aceh. Masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda berlangsung sejak 1607 hingga 1636, dimana pada masa itu Aceh mencapai puncak kejayaannya.

Latar Belakang Perang Aceh

Latar Belakang Perang Aceh

Pada 1858 ada sebuah perjanjian yang bernama perjanjian Siak. Dalam perjanjian tersebut Sultan Ismail menyerahkan wilayah Deli, Langkat, Asahan dan Serdang kepada Belanda, padahal daerah-daerah tersebut berada di bawah kekuasaan Aceh sejak kepemimpinan Sultan Iskandar Muda.

Pada tahun 1824 Belanda melanggar perjanjian Siak dan membuat perjanjian London berakhir. Isi dari perjanjian London adalah Belanda dan Britania Raya membuat ketentuan tentang batas-batas kekuasaan kedua daerah di Asia Tenggara dengan garis lintang Singapura.

Karena Belanda tidak menepati janjinya, maka kapal-kapal Belanda yang lewat perairan Aceh ditenggelamkan oleh pasukan Aceh. Perbuatan Aceh ini didukung oleh Britania.

Perairan Aceh menjadi sangat penting untuk lalu lintas perdagangan setelah dibukanya Terusan Suez oleh Ferdinand de Lesseps. Pada 1871 Inggris dan Belanda menandatangani Perjanjian London.

Isi dari perjanjian tersebut adalah Britania memberikan kebebasan kepada Belanda untuk mengambil tindakan di Aceh. Belanda harus menjaga keamanan lalulintas di Selat Malaka. Belanda mengizinkan Britania bebas berdagang di Siak dan menyerahkan daerahnya di Guyana Barat kepada Britania.

Pada 1871, Aceh mengadakan hubungan diplomatik dengan Konsul Amerika Serikat, Kerajaan Italia dan Kesultanan Usmaniyah di Singapura. Aceh juga mengirimkan utusan ke Turki Usmani pada tahun itu juga.

Akibat upaya diplomatik yang dilakukan Aceh, Belanda menjadikannya sebagai alasan untuk menyerang Aceh.

Setelah Belanda tahu hubungan diplomatik Aceh, wakil Presiden Dewan Hindia Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen dengan 2 kapal perangnya datang ke Aceh dan meminta keterangan kepada Sultan Machmud Syah tentang apa yang sudah dibicarakan di Singapura.

Akan tetapi Sultan Machmud tidak takut kepada belanda dan menolak untuk memberikan keterangan.

Sumber Referensi:
Wikipedia
usaha321

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: